





1) Os Femur
Ujung atas (bagian proximal) femur terdiri dari : caput, collum, trochantor major, dan trochantor minor. Caput femoralis berartikulasio (articulatio) dengan asetabulum tulang panggul membentuk artikulasio coxae. Artikulasio ini terbentang dari kolum femoralis, berbentuk bulat, halus, dan dilapisi kartilago artikularis. Konfigurasi ini memberikan ruang gerak yang bebas. Kaput menghadap ke medial, atas, dan depan kedalam asetabulum. Fovea adalah lekukan ditengah kaput yang merupakan tempat melekatnya ligament teres. Collum femoralis (kolum femur) membentuk sudut sebesar 125˚ dengan korpus ossa femoralis (sumbu panjang batang femur). Trochantor major dan minor merupakan tonjolan besar pada batas leher dan batang femur
Korpus femoralis (corpus) adalah batang femur, meliputi seluruh bagian panjang tulang. Pada ujung atas terdapat trochantor major, dan di posterior medial, trochantor minor. Batas antara korpus dan kolum adalah linea trokantorika (di anterior), dan krista trokanterika (di posterior). Batang femur pada umumnya menampakan kecembungan kedepan, licin, dan bulat pada permukaan anteriornya, namun permukaan posteriornya terdapat linea aspera. Linea aspera yaitu krista yang berjalan longitudinal
![]() |
Gambar 2.1
Tulang Pembentuk Sendi Lutut
(R.Putz & R.Pabst, Mid 2003)
di sepanjang permukaan posterior femur yang terpisah di bagian bawah menjadi linea suprakondilaris (linea supracondylaris). Linea suprakondilaris medialis berakhir pada tuberkulum adduktor.
Ujung bawah femur terdiri dari kondilus (condylus) femoralis medialis dan lateralis. Struktur ini merupakan tempat artikulasio dengan ossa tibia pada artikulasio genu (articulatio genu). Kondilus lateral lebih menonjol dari pada medial, hal ini untuk mencegah tergesernya patela (gambar 2.2).
2) Os Patella
Patella adalah tulang sesamoid yang terdapat di dalam tendon m. quadriceps. Berbentuk segi tiga dengan puncaknya mengarah ke bawah, puncaknya berhubungan dengan tuberositas tibia melalui ligament patella. Permukaan posterior berartikulasio dengan kondilus femoralis. Kondilus femoralis terletak pada posisi terbuka di depan sendi lutut dan dengan mudah di palpasi melalui kulit, di pisahkan dari kulit oleh bursa subcutanea.
Tepi atas lateral dan medial menjadi perlengketan berbagai bagian dari m. quadriceps femoralis. Otot ini di cegah ke lateral selama bekerja oleh serat horizontal bawah dari m. vastus medialis dan oleh besarnya kondilus lateral femoralis(Gambar 2.3).
![]() |
Gambar 2.2
Tulang Femur tampak anterior dan posterior
(R.Putz & R.Pabst, Mid 2003)
![]() |
Gambar 2.3
Tulang Patella tampak anterior dan posterior
Keterangan : Tampak Anterior Tampak Posterior 1. Basis patellae 1. Basis patellae 2. Facies anterior 2. Facies articularis 3. Apex patellae 3. Apex patellae
(R.Putz & R.Pabst, Mid 2003)
3) Os Tibia
Tibia berfungsi memindahkan berat badan dari femur ke talus. Ujung atas tibia memiliki kondilus tibia medialis dan lateralis, berartikulasi dengan kondilus femoralis, kondilus tibialis medialis lebih besar dari pada lateralis. Area interkondilaris adalah daerah antara kondilus tibialis, dimana terdapat dua tonjolan (tuberkulum interkondilaris medialis dan lateralis).
Pada bagian anterior korpus atas, tuberositas tibia bisa di temukan dengan mudah dan ini merupakan tempat insersio ligament patella. Potongan melintang korpus berbentuk segitiga. Korpus memiliki sisi anterior, medial, dan lateral serta permukaan posterior, lateral, dan medial. Batas anterior dan permukaan medial korpus seluruhnya terletak subkutan. Oleh karena itulah korpus tibia merupakan tempat tersering terjadinya fraktur terbuka. Pada permukaan posterior korpus terdapat garis miring (linea soleal) yang menandai origo m. soleus pada tibia. N.Popliteus memasuki area trigeminum di atas linea soleal.
Fibula berartikulasi dengan tibia di superior pada permukaan artikularis aspek postero – inferior kondilus lateralis (artikulasio tibiofibularis / tibiafibula joint). Insisura fibularis terletak di sebelah lateral ujung bawah tibia untuk berartikulasi dengan fibula pada sindesmosis tibiofibularis.
Pada bagian inferior tibia menonjol membentuk maleolus medialis. Maleolus medialis turut membentuk mata kaki yang menstabilkan talus. Maleolus medialis memiliki sulkus di posterior untuk lewatnya tendon tibialis posterior.(gambar 2.4)
![]() | |||||||
| |||||||
|
| ||||||
Gambar 2.4
Tulang Tibia tampak anterior, lateral, dan posterior
(R.Putz & R.Pabst, Mid 2003)

4 Bulan
Bayi berguling kesamping kanan atau kiri
Kegiatan bayi bertambah dari posisi terlentang ke posisi miring (berguling), ini disebabkan karena minat terhadap lingkungan mulai berkembang. Bayi berguling kekanan atau kiri tanpa maksud apapun, dalam posisi ini kepala dan tubuh bertumpu pada alas. Lengan dan tungkai membengkok menahan didepan. Bayi sangat menyukai posisi ini, namun bayi belum mampu untuk mempertahankan keseimbangannya disamping, ia akan berguling kembali keposisi terlentang.
Akhir bulan ke 4
Tumpuan siku-pangul yanga aman dan stabil
Saat ini bayi tampak lebih stabil menjaga keseimbangan diatas perutnya. Untuk dapat melakukan hal tersebut ia sekarang meletakan dua sikunya melampaui sendi bahu. Pusatnya (COG) terdapat pada perut. Karerna dalam posisi tengkurap ini bayi merasa stabil, maka ia dapat tegak dengan baik dan memutar kepala kesegala arah dan ia dapat bermain dalam posisi ini.
Tumpuan satu siku dan pangul (one elbow-pelvic support)
Dengan tumpuan dasar siku-pinggul yang stabil dan dengan mengangkat lutut ke atas, bayi mengeser titio pusat (COG) nya kesamping. Saat in ibayi dapat mengangkat lengan dengan bebas untuk meraih mainan. Ini adalah tahap yang paling penting dalam perkembangan anak. Dia dapat menjaga keseimbanganny. Untuk dapat melakukan ini anak memerlukan kooordinasi otot-otot.
- Bayi dapat mengangkat satu tangan dan bertumpu pada lengan lain
- Mulai menggeser keseimbangan kesamping
Proses persalinan adalah proses pengeluaran janin dari dalam uterus melalui vagina. Namun apabila janin tidak dapat lahir secara normal atau alami maka perlu dilakukan operasi yang sering disbut operasi sectio caesaria. Menurut Leon J. Dunn, ada empat alasan dilakukannya sectio caesaria yaitu untuk keselamatan ibu dan janin ketika persalinan berlangsung, tidak terjadi kontraksi, adanya distosia sehingga menghalangi persalinan alami, bayi dalam keadaan darurat sehingga harus cepat dilahirkan tetapi jalan lahir tidak mungkin dilewati janin (Dini Kasdu, 2003).
Adapun masalah-masalah yang timbul akibat operasi sectio caesaria antara lain, potensi terjadinya trombosis, nyeri pada daerah sekitar incisi, gangguan pada transfer ambulasi, potensi terjadinya penurunan kapasitas paru, penurunan elastisitas perut dan lain-lain.
Dari masalah-masalah yang sudah tertulis diatasa tersebut, peran fisioterapi juga dibutuhkan pada pasien pasca operasi sectio caesaria yaitu terapi latihan. Adapun terapi latihan yang diberikan dapat berupa Breathing Exercise, Positioning, Post-natal exercise.
Stretching adalah salah satu teknik latihan yang bertujuan untuk penguluran struktur jaringan lunak yang memendek (kisney, 1990). Stretching atau peregangan adalah istilah umum yang digunakan untuk menjelaskan suatu cara terapi dengan tujuan memperpanjang struktur jaringan lunak yang mengalami pemendekan. Cara ini dapat meningkatkan panjang otot dan lingkup gerak sendi (Barkah Sugiharto, 2008).
Stretching terbagi menjadi passive stretching dan aktive stretching. Passive stretching, adalah penguluran yang dilakukan dengan menggunkan tenaga dari luar atau dari terapis, sedangkan otot-otot pasien dalam keadaan rilek.
1) Prosedur Melakukan passive stretching
Sebelum melakukan passive stretching perlu diperhatikan ketentuan melakukan passive stretching sebelum melakukan latihan, yaitu mengindentifikasi keterbatasan fungsional, menentukan jaringan yang akan di stretching, dan memeriksa kekuatan otot. Kemudian menentukan teknik stretching yang akan digunakan. Setelah didapatkan hasil dari ketentuan tersebut, maka terapis dapat menjelaskan maksud, tujuan dan tata cara penggunaan passive stretching, kemudian posisikan pasien senyaman mungkin dan terapis berada pada posisi yang dapat dengan mudah menjangkau gerakan. Area yang akan di stretching dibebaskan dari sesuatu yang mengganggu, misalnya pakaian yang terlalu longgar.
2) Pelaksanaan passive stretching
Setelah posisi pasien dan terapis berada pada posisi yang nyaman, berikan Fiksasi pada bagian proksimal sendi yang akan digerakan, bagian yang akan digerakan diberikan support dengan baik, agar pasien merasa nyaman saat terapi berlangsung. Kemudian gerakan ekstremitas yang akan di stretching secara perlahan sampai batas sendi, lakukan stretching dimulai dengan kekuatan ringan, sedang sampai berat.
Kemudian turunkan perlahan-lahan tahanan yang diberikan, istirahat dan ulangi kembali stretching. Setelah dilakukan stretching bila diperlukan berikan terapi dingin pada jaringan lunak, untuk menghindari nyeri dan microtrauma pasca stretching.


